Suatu hari, seorang ibu dan anaknya masuk ke dalam sebuah toko di sebuah pasar. Sang ibu kemudian asyik memilah-milah barang sementara mata anaknya tertuju pada sebuah kotak berisi es cream. Anak itu kemudian mendekati ibunya dan meminta dibelikan es cream. Namun ibu tersebut, acuh saja dengan permintaan anaknya. Anak itu kemudian merengek dan terus menangis semakin kencang. Ibu itu kemudia berkata “Anakku kamu masih sakit, masih panas, kamu tidak baik makan es cream itu sekarang”. Tapi anak tersebut tidak peduli, ia terus merengek. Ibu itu kemudian membawa anaknya keluar dati toko tersebut.
Itulah gambar permintaan kita kepada Allah. Jika kita terus meminta dan belum juga dikabulkan, bukan berarti Allah tidak sayang sama kita. Namun Allah mengetahui apa yang lebih baik buat kita saat ini. Mungkin pada kesempatan yang lain, yang lebih tepat, Allah akan mengabulkan doa kita.
Sama seperti ibu tadi, di hari kemudian ketika anaknya sudah sehat mungkin ia akan mendatangi anaknya dengan sebuah kotak es cream yang besar dan lezat.
Kita siapkan saja diri kita dari sekarang dengan ketakwaan kepada-Nya. Sampai tidak saatnya nanti Allah mengabulkan doa-doa kita, jika tidak di dunia, maka kita akan berharap kita mendapatkannya di akhirat.
Posted on on April 27th, 2010 in
Mutiara
|
4 Comments »

Lama tidak nulis di blog, hari ini aku posting foto dan sedikit tulisan tentang anakku.
Sabiq panggilannya, lahir 3,5 bulan lalu. Kini hari-hari kami selalu diisi dengannya. Tangis, tawa dan kelucuannya.
Pandangan matamu, meneduhkan hati, merindukan dan menguatkan.
Nak, engkau dititipakan Allah pada kami. Jika besar nanti jangan khianati Allah dan kami.
Jadilah anak yang Sholeh. Anak sholeh pasti pintar dan baik, tapi sekedar pintar belum tentu sholeh dan baik.
*** Abi-Umi***
Posted on on Januari 21st, 2010 in
Mutiara
|
2 Comments »
Sabtu kemaren gua piket, dari awal gua sudah males dan keburu-buru. Sampai kantor malah sepi, orang-orang sepi dan berita juga sepi.
Bengong gua mondar-mandir di lorong munuju toilet. Nah saat itu gua dengar sebuah kisah menarik. Kisah ini sie gua dengar dari radio entah radio apa. Yang ngetel satpam dan anak-anak CS. Ngetelnya kenceng bangat sampai kedengeran segedung kali.
Kisahnya tentang sebuah jam rusak dengan tukang jam.
Suatu hari tukang jam memperbaiki sebuah jam rusak dia kemudian berkata kepada jam tersebut “Maukah kamu berdetak sebanyak 31.536.000 kali setiap tahunnya? Kemudian dengan males dan rasa tidak percaya diri jam menjawab “Bagaimana mungkin aku bisa berdetak sebanyak itu, pasti aku tidak sanggup”.
Lalu dengan sabar tukang jam berkata “Bagaimana kalau kamu berdetak 1 kali setiap detiknya?” Jam pun menjawab “O kalau itu aku sanggup”
Lalu secara perlahan jam berdetak 1 kali setiap detiknya tanpa henti. Berjam-jam, berhari-hari, minggu, bulan hingga kemudian jam telah berdetak selama 1 tahun tanpa henti. Artinya juga ia telah berdetak sebanyak 31.536.000 kali.
Ternyata tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau dan jangan katakan tidak bisa sebelum kita mencobanya.
Posted on on Oktober 13th, 2009 in
Mutiara
|
No Comments »
Rasa mules pada istriku kian menjadi. Rasa mules itu sudah ia rasakan sejak pukul 02.00 wib. Sekitar pukul 04. 00 wib aku membawanya ke rumah sakit. Menunggu kami dan berpacu aku dengan waktu subuh yang telah datang. Detik-detik, menit ke menit bahkan jam, rasa mules itu kian menjadi.
Puncaknya pada pukul 07.15 wib, aku berganti status. Sejak saat itu status bertambah menjadi seorang bapak.
Bapak dari seorang bayi laki-laki lucu bernama Sabiq Humam Zada, 23 September lalu.
Posted on on Oktober 7th, 2009 in
Mutiara
|
No Comments »
Sebarkan salam, memberi makan, jalin tali silaturrahmi, sholat di waktu malam dan berpuasalah niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.
Gua baca hadist ini dari lembaran jumat di dekat kantor gua, jelang sholat Jumat 2 minggu lalu. Hadist ini begitu menarik perhatian gua, di samping gua pengen bangat ngapalin redaksi hadist itu, tapi juga isi kandungan hadis t itu.
Bagaimana tidak, Rosul menggambarkan tata cara biar kita masuk surga. Menariknya 3 dari 5 hal yang beliau sebut adalah menyangkut hubungan kita dengan manusia, (kita sebagai mahluk sosial), yaitu Sebarkan salam, memberi makan dan jalin silaturrahmi.
Gua cuma ingin menggambarkan bahwa untuk dapat masuk surga kita tidak bisa hanya beribadah seorang diri, tapi kita dituntut untuk menjadi mahluk sosial yang baik, jadi tetangga yang baik, jadi warga yang baik, dsb.
Maka, seharusnya ga ada lagi ekskulivitas dalam dakwah, ibadah dan bermasyarakat. Biar kita masuk surga bersama.
Posted on on Juni 15th, 2009 in
Mutiara
|
15 Comments »
Sabtu dan Minggu lalu gua tinggalkan istri gua sendiri di kontrakan. Ada acara kantor di Anyer, Banten.
Ga banyak sie yang gua lakukan di sana, paling berenang,
selebihnya ngikutin panitia aja.
Sekarang gua sudah kembali kepada realita, kerja lagi, mencoba menupuk keimanan lagi yang sempet meluncur tajam beberapa hari lalu. Sementara gua ga punya rem yang pakem. Gua ijin liqo, ngga ngisi liqo, ngga ngajar rohis, ngga ikut acara DPD, ect.
Sekarang gua akan mulai lagi, ini harus dihentikan, ga boleh dibiarkan. Ga boleh gua terkubur dalam ketidakmenentuan tentang landasan keimanan, harus ada pilihan.
Posted on on Juni 10th, 2009 in
Tak Berkategori
|
No Comments »
Tadi malem gua dapet nasehat (mungkin juga teguran) dari seorang teman. Soalnya sepele masalah tidak segeranya gua membalas sms terkait data peserta yang ikut rihlah.
Awalnya gua ngerasa kesel juga terima SMS itu, kenapa gua harus dapet SMS ini. Inikan hak gua mau ikut apa ngga.
Lama kelamaan gua bisa nerima juga, ngapain gua marah, dia kan cuma mau mengingatkan gua, terima aja, toh ga ada ruginya juga buat gua.
Sobat, salah satu kekurangan kita (orang Indonesia, orang pribumi) salah satunya adalah sulit menerima kritikan, nasehat seperti yang gua alami barusan.
Padahal ketika kita menyikapinya tidak dengan emosi, dengan logika yang penuh kesadaran, toh ga ada ruginya buat kita. Ketika kita mau dan sesuai menurut kita yang kita pakai, ketika kita ga mau dan ga sesuai buat kita yang tinggalkan. Kayaknya jarang ada orang yang menasehati memaksakan nasehatnya kepada orang yang ia nesehati, semua terserah kita, ga ada unsur paksaan.
Kayaknya gua, elu n kita semua harus mulai belajar menerima nasehat, bukan hanya mau menasehati.
Mungkin itu fungsinya kita diberi 1 mulut dan 2 telinga. Biar kita lebih banyak mendengar dari pada bicara.
Posted on on Mei 28th, 2009 in
Mutiara
|
No Comments »
Bekerja dalam diam. Itu yang selalu gua inginkan dan jadi prinsif gua.
Menurut ustad gua, yang namanya sama dengan nama gua, cuma nama belakangnya faisal, diam bilang itu adalah tife pejuang.
Pejuang itu, orang yang mampu bekerja dalam gelap, dalam waktu yang lama dan panjang.
Bagi gua si pejuang itu bukan hanya mereka yang terkenal, bukan hanya yang meregang nyawa di medan perang. Tapi setiap orang bisa jadi pejuang.
Pembuat gula jawa itu pejuang, pemulung itu pejuang, tukang ojek yang meningal gara-gara jatuh ke pohon pisang itu pejuang, Tukang batu itu pejuang, tukang cukur, tukang bangunan, nelayan, petani. Mereka adalah pejuang, pejuang untuk keluarga mereka, untuk istri mereka, anak-anak mereka dan pejuang bagi semua yang menjadi tanggung jawa mereka.
Dan secara sederhana dan paling kecil, gua berharap, gua bisa jadi pejuang sejati dan benar-benar pejuang, minimal bagi keluarga gua. Pejuang yang bekerja dalam diam.
Posted on on Mei 22nd, 2009 in
Mutiara
|
2 Comments »
Sebenarnya hari ini gua mau nulis banyak di blog, Terutama tentang tukang ojek yang nyungsep ke pohon pisang langsung meninggal. Juga tentang mbak-mbak penumpangnya yang bingung, trus nangis karena takut.
Tapi kejadian luar biasa terjadi. Pesawat Hercules milik TNI AU jatuh dan terbakar di Magetan, Jawa Timur. 99 Orang tewas dari sekitar 120-an orang penumpang.
Jadinya pekerjaan gua banyak bangat, ga sempet gua mencoret-coret blog. Cuma ini deh yang bisa gua tulis. Lagian gua juga sudah pengen pulang.
Dech ya!
Posted on on Mei 20th, 2009 in
Mutiara
|
No Comments »